Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Juli 2015

Jenis-Jenis Produk Darah


                   Produk darah adalah semua bahan terapeutik yang dibuat dari darah manusia.
Komponen darah:
·         Konstituen darah yang dipisahkan dari darah lengkap seperti: Red Cell Concentrate, Red Cell Suspension, Plasma, Platelet Concentrate.
·         Plasma atau trombosit yang diperoleh melalui cara aferesis
·         Cryopresipitate
·         Derivat plasma: Albumin, Konsentrat faktor koagulasi, Imunoglobulin
v  Darah lengkap (Whole Blood) 
berisi sel darah merah, leukosit, trombosit dan plasma. Satu kantong darah lengkap (250 cc) dapat menaikkan kadar HB sebanyak 0,5 g%.
Indikasinya adalah untuk:
1.       Memperbaiki kemampuan transpor 02 oleh eritrosit (pada anemia berat)
2.       Menambah jumlah darah yang beredar (pada perdarahan)
Jenis-jenis darah lengkap:
1.       Darah segar
2.       Darah baru
3.       Darah simpan
Darah segar ( Fresh Whole Blood)
Darah baru
Darah simpan
Masa simpan
4-6 jam
3-4 hari
21 hari, 28 hari (tergantung antikoagulan yang dipakai)
Keuntungan
·         Faktor-faktor pembekuan masih lengkap
·         Fungsi sel darah merah relatif masih baik
·         Kenaikan kadar kalium, amonia, dan asam laktat belum tinggi
·         Pengadaan mudah
·         Bahaya penularan penyakit sudah berkurang
kerugian
·         Sulit diperoleh dalam waktu yang tepat
·         Bahaya penularan penyakit masih tinggi (CMV masih hidup dalam waktu 48 jam)
·         Faktor-faktor pembekuan sudah sangat berkurang
·         Faktor pembekuan hampir habis
·         Kemampuan transportasi 02 berkurang
·         Kadar kalium, amonia dan asam laktat meningkat
Efek penyimpanan terhadap WB: 
·         Berkurangnya pH (darah menjadi lebih asam)
·         Peningkatan konsentrasi kalium plasma
·         Menurunnya kandungan 2,3 DPG yang akan mengurangi kemampuan eritrosit melepaskan oksigen di jaringan
·         Hilangnya fungsi trombosit (48 jam setekah donasi)
·         Menurunnya konsentrasi faktor VIII dalam 48 jam
v  Packed Red Cell (PRC)
·         Dari 250 cc WB diambil menjadi 100-125 cc PRC (Ht: 70-80%)
·         Isi : eritrosit + sedikit plasma
·         Pembuatan sistem terbuka (400c) tahan 12 jam: sistem tertutup tahan sesuai tanggal kadaluarsa
Keuntungan:
·         Bahaya overloading (-)
·         Reaksi alergi terhadap protein plasma (-)
·         Ekonomis
Kerugian:
·         Sistem tertutup:
Kemampuan transport 02 menurun
Bahaya infeksi
·         Sistem terbuka:
Masa simpan pendek
Bahaya infeksi
Beberapa komponen darah lainnya:
v  Washed Red Cell (WRC)
Dibuat dari PRC yang dicuci 3x dengan NaCl fisiologi. Tujuannya untuk menghilangkan antibodi dalam plasma dan yang menempel pada eritrosir. Harus digunakan dalam 4 jam setelah pembuatan.
v  Platelet Concentrate
Dari 250 cc WB dihasilkan 20 cc platelet concentrate. Berisi 70-80% jumlah trombosit semula dengan berisi sekitar 28 milyar trombosit. PC dapat menaikkan jumlah trombosit sebanyak 5000/mm3. Pada penyimpanan dengan agitator (220 cc), tahan 3-5 hari
v  Fresh Frozen Plasma (FFP)
Dibuat dari plasma segar yang dibekukan pada suhu -2000c. Berisi semua faktor pembekuan. Tahan disimpan 1 tahun (pada suhu -2500c). Kadar faktor VIII sedikitnya 70% dari awal
v  Cryoprecipitate
Dibuat dari FFP yang dicairkan pada suhu 400c, kemudian disentrifus, endapan yang diambil. Pada penyimpanan -3000c, tahan selama 1 tahun. Bila akan dipakai, dicairkan dulu pada 400c dan harus diberikan dalam waktu 6 jam. Dari 250 cc WB, diperoleh 15-20 cc cryoprecipitate yang berisi 50-75 IU f VIIIc dan 40-125 mg fibrinogen
Referensi 

F FK UMSU.2015.Buku Panduan Keterampilan Klinis Dasar semester 2

Pemeriksaan Golongan Darah


                   Penetapan golongan darah ABO adalah salah satu cara penetapan golongan darah berdasarkan identifikasi adanya antigen (aglutinogen) A dan B pada permukaan sel darah merah, pemeriksaan ini penting sebagai pemeriksaan awal sebelum dilakukan transfusi darah untuk mencocokkan darah donor dengan darah pasien supaya tidak terjadi reaksi transfusi.
                Penetapan golongan darah ABO adalah salah satu cara penetapan golongan darah dengan mereaksikan darah pasien ataupun darah donor dengan serum Anti A, Anti B dan Anti AB hingga terbentuk aglutinasi.
Alat dan bahan:
·         Object glass
·         Lanset steril
·         Kapas
·         Alkohol 70 %
·         Anti A
·         Anti B
·         Anti Rhesus
·         Lidi bersih
Cara pemeriksaan:
1.       Siapkan alat dan bahan dengan baik
2.       Lakukan tindakan asepsis
3.       Letakkan serum anti A, anti B pada object glass, letakkan 1 tetes dan tegak lurus posisinya, anti A disebelah kiri dan anti B disebelah kanan
4.       Pasang blood lancet steril pada lancing device dan atur kedalaman jarum
5.       Pastikan ujung lancing device bersih dari darah
6.       Desinfeksi salah satu ujung jari pasien dengan kapas alkohol 70 %
7.       Tusuklah ujung jari pasien dengan blood lancet dengan benar, pastikan darah terkumpul dibagian ujung jari dengan mengurut-urut jari terlebih dahulu dan tusuk ujung jari tersebut dengan posisi tegak lurus dengan menekan terlebih dahulu kemudian tekan tombol lancing device
8.       Buanglah tetesan darah pertama
9.       Letakkan tetes darah kedua disamping Anti A  dan letakkan tetes darah ketika disamping serum Anti B
10.   Campurkan darah dengan serum Anti A dengan salah satu ujung lidi hingga merata, dan lakukan hal yang sama untuk selanjutnya
11.   Goyangkan object glass dengan membuat gerakan lingkaran lebih kurang 1 menit
12.   Perhatikan terbentuknya aglutinasi setelah 2 menit
Interpretasi:


Referensi 

F FK UMSU.2015.Buku Panduan Keterampilan Klinis Dasar semester 2

Pemeriksaan Masa Perdarahan



                Prinsip dari pemeriksaan masa perdarahan ini adalah untuk menilai fungsi trombosit dan reaksi pembuluh darah terhadap luka. Sebelum melakukan prosedur selanjutnya diharapkan untuk mempersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan pada topik pemeriksaan kali ini.
Alat:
·         Lanset steril yang dissposable
·         Stop watch
·         Object glass
·         Kertas saring
·         Kapas
Reagensia:
·         Alkohol 70%
·         Plester
Cara pemeriksaan:
1.       Bersihkan auricula (cuping telinga) dengan kapas dan biarkan sampai mengering
2.       Setelah kering, tusuk dengan menggunakan lanset steril yang dissposable. Letakkan object glass pada sisi lain auricula dan jalankan stopwatch begitu darah mulai mengalir
3.       Tiap setengah menit (30 detik), darah yang mengalir diisap dengan kertas saring tapi hindari bersentuhan dengan luka
4.       Catat waktu darah mulai keluar sampai masa perdarahan berhenti
5.       Tutup luka dengan plester
Interpretasi:
Nilai normal dari masa perdarahan: 1-5 menit
Catatan:
Jika darah tidak berhenti lebih dari 10 menit, hentikan perdarahan dengan kapas alkohol


Referensi 

F FK UMSU.2015.Buku Panduan Keterampilan Klinis Dasar semester 2

Rumple Leed Test

      

 Test rumple leed bertujuan untuk menguji ketahan kapiler darah dengan cara melakukan pembendungan vena-vena, sehingga darah menekan dinding kapiler. Dinding kapiler yang kurang kuat akan rusak oleh pembendungan itu, sehingga darah dari dalam kapiler itu akan keluardari kapiler dan merembes kedalam jaringan sekitarnya sehingga tampak bercak merah kecil pada permukaan kulit, bercak merah itulah yang disebut petechiae (petekie) sebagai salah satu manifestasi perdarahan.
                Petekie adalah ektravasasi sel darah merah (eritrosit) kedalam kulit atau selaput lendir (mukosa) dengan manifestasi berupa makula kemerahan superficial berukuran milimeter dengan diameter kira-kira 2 mm, yang tidak akan hilang bila ada penekanan. Petekie dapat mengalami perubahan warna, awalnya petekie berwarna merah tapi kemudian akan menjadi kebiruan, semakin memudar dan akhirnya akan hilang. Petekie dapat timbul dengan 2 cara yaitu, secara spontan karena kelainan hematologi atau diprovokasi dengan melakukan uji tourniquet (rumple leed test).
Alat yang digunakan:
 Spygmomanometer (Tensimeter)
Cara pemeriksaan:
1.       Tentukan lokasi daerah tubuh yang akan dilakukan uji rumple leed. Umumnya dilakukan pada lengan bawah atau tungkai bawah.
2.       Lakukan pemeriksaan tekanan darah penderita kemudian catat nilai tekanan sistole dan diantolenya
3.       Setelah dapat hasil tekanan darahnya maka jumlahkan nilai pada tekanan darah sistole dengan nilai pada diastolenya. Nilai hasil penjumlahan kemudian dibagi dua. Catat hasilnya
4.       Istirahatkan pasien selama kurang lebih 2 menit sebelum melakukan rumple leed test
5.       Lakukan rumple leed test dengan melakukan pembendungan aliran darah penderita dengan menggunakan tensimeter sampai dengan nilai yang dicatat tadi.
6.       Beri lingkaran dengan menggunakan pena pada kulit lengan bawah bagian volar, dengan garis tengah kurang lebih 5 cm, kira-kira 4 cm sebelah distal dari fossa cubiti
7.       Pertahankan tekanan itu selama 5-10 menit
8.       Setelah itu, lepaskan lilitan bladder cuff dan tunggulah sampai tanda-tanda statis darah lenyap. Statis darah telah berhenti jika warna kulit pada lengan yang dibendung tadi kembali seperti semula
9.       Carilah adanya petekie yang timbul pada lingkaran pada kulit lengan bawah bagian volar kemudian hitung jumlah petekie yang timbul.
1.   Hitung juga jumlah petekie yang timbul pada kulit lengan bawah bagian volar disebelah distal lingkaran tersebut
1.   Bila ditemukan lebih dari 10 buah petekie didalam lingkaran, maka uji tourniquet (rumple leed test) dinyatakan positif (+)
Interpretasi:
·         Bila petekie terlihat halus dan baru tampak dengan kaca pembesar = +
·         Bila terlihat dengan jelas lebih kurang 10 petekie = ++
·         Bila terlihat dengan jelas banyak petekie (>10 buah) = +++
·         Bila selutuh lengan bawah penuh dengan petekie = ++++
Catatan:
                Pandangan mengenai apa yang dianggap normal sering berbeda-beda. Jika ada leboh dari 10 petekie didalam lingkungan itu maka biasanya test baru dianggap positif. Seandainya dalam lingkaran itu tidak ada petekie tetapi lebih jauh di distal ada maka hasil percobaan itu dianggap positif.
               Referensi 
F FK UMSU.2015.Buku Panduan Keterampilan Klinis Dasar semester 2

Tatalaksana Transfusi Darah


Persiapan sebelum melakukan transfusi
1.       Menentukan jenis darah yang digunakan
2.       Menghitung kebutuhan transfusi pasien
3.       Menentukan jumlah kantong darah yang dibutuhkan
4.       Mempersiapkan obat anti alergi/ anti shock
5.       Setelah menerima kantong darah, lalu memeriksa keadaan fisik darah (warna, gumpalan, hemolisis) dan kantong darah (bocor)
6.       Melakukan identifikasi label kantong darah (jenis darah/komponen darah, nomor kantong darah, jenis antikoagulan, volume darah/ komponen darah)
7.       Melihat hasil pemeriksaan golongan darah dan memastikan golongan darah yang sesuai
8.       Melihat hasil pemeriksaan crossmatch dan memastikan tidak ada reaksi crossmatch
9.       Mengetahui jenis darah yang digunakan dengan memberi tanda di laporan darah (darah segar, darah baru, darah simpan)
Pelaksanaan transfusi


1.       Mengucapkan salam kepada penderita
2.       Menjelaskan tujuan  dan efek samping
3.       Meminta informed consent
4.       Mengucapkan bismillah
5.       Melakukan pemasangan infus dengan cairan infuse NaCl
6.       Mematikan infuse
7.       Memindahkan infuse dari cairan Nacl ke kantong transfusi
8.       Memulai transfuse dengan tetesan 10 gtt/i
9.       Memastikan tidak adanya emboli pada selang
1.   Melakukan pengawasan dengan memperhatikan tanda-tanda reaksi akut
Selesai transfusi
1.       Memindahkan selang infus kembali ke larutan NaCl
2.       Melakukan/meminta dilakukan pemeriksaan Hb post transfusi
3.       Menjelaskan hasil transfuse yang telah diberikan kepada pasien
4.       Mengucapkan terima kasih , salam, dan berdo’a untuk kesembuhan pasien
j
Referensi
FK UMSU.2015.Buku Panduan Keterampilan Klinis Dasar semester 2

Penyakit Jantung Koroner









Penyakit jantung koroner merupakan penyakit yang disebabkan oleh penyempitan pembuluh darah jantung (arteri koroner). Penyumbatan ini berawal dari kerusakan endotel pembuluh darah. Endotel pembuluh darah normal rusak oleh faktor resiko seperti hipertensi, mediator (sitokin) dari sel darah, asap rokok, diet aterogenik, peningkatan Kadar gula darah, dan oksidasi LDL-C.

              LDL yang teroksidasi tersebut akan mematikan sel  endotel sehingga merangsang respon inflamasi. Oleh karena kejadian ini berlangsung terus, semakin lama terbentuklah plak yang akan menyebabkan penyempitan pembuluh darah.

Berikut faktor resiko penyakit jantung koroner :
1. Faktor resiko yang tak dapat diubah :
    Usia, jenis kelamin (laki laki), riwayat keluarga, ethnik
2. Faktor resiko yang dapat diubah :
    Merokok, hipertensi, dislipidemia, diabetes melitus, obesitas, stress, diet lemak tinggi kalori, inaktifitas fisik

             Penyakit jantung koroner ini dapat menyebabkan komplikasi yang sangat berbahaya seperti kematian mendadak, gagal jantung , detak jantung tidak normal, dan stroke.

Berikut adalah terapinya:
1. Mengurangi faktor pemicu stress
2. Memperbanyak konsumsi makanan mengandung omega, misalnya minyak ikan
3. Olahraga teratur seperti jogging, berlari, bersepeda, dll
4. Mengurangi makanan yang mengandung lemak tak jenuh yang tinggi seperti daging kambing dan jeroan Mengurangi faktor pemicu stress


 

Sistem Integumen

Sistem integumen adalah sistem organ yang membedakan, memisahkan, melindungi, dan menginformasikan hewan terhadap lingkungan sekitarnya. Sistem ini seringkali merupakan bagian sistem organ yang terbesar yang mencakup kulit, rambut, bulu, sisik, kuku, kelenjar keringat dan produknya (keringat atau lendir). Kata ini berasal dari bahasa Latin "integumentum", yang berarti "penutup". 



Kita bahas dari kulit ya..................  


 





Kulit secara umum memiliki tiga lapisan. Tiga lapisan tersebut adalah lapisan kulit ari (epidermis), lapisan kulit jangat (dermis), dan lapisan hipodermis/lapisan subkutis. Lapisan kulit ari merupakan lapisan nonvaskular yang dilapisi epitel berlapis gepeng dengan lapisan tanduk dengan jenis dan lapisan yang berbeda-beda. Lapisan yang terletak dibawahnya adalah lapisan dermis, lalu lapisan hipodermis/ subkutis yang merupakan jaringan ikat dan jaringan adiposa yang membentuk fasia superfisial yang tampak secara anatomis, jaringan adiposanya terdapat banyak lemak sebagai tempat cadangan makanan, menahan panas tubuh, dan melindungi tubuh bagian dalam terhadap benturan. 

 Lapisan-lapisan yang terdapat pada lapisan kulit ari (epidermis) adalah dimulai dari dasar, stratum basal (germinativum), stratum spinosum, stratum granulosum, startum lusidum dan stratum korneum. Stratum basal (germinativum) merupakan sebagai sel induk bagi epidermis dan banyak ditemukan aktivitas mitosis. Sel membelah dan mengalami pematangan sewaktu bermigrasi keatas menuju lapisan superfisial. Semua sel dalam lapisan ini menghasilkan dan mengandung filamen keratin intermediat yang meningkat jumlahnya sewaktu bergerak keatas. Stratum spinosum, keratinosit bergerak keatas dan membentuk lapisan kedua. Startum granulosum, merupakan tempat pigmen kulit terisi oleh granula keratohialin membentuk lapisan ketiga. Stratum lusidum, disini terdapat sel-sel yang tersusun rapat dan tidak terdapat nukleus. Stratum korneum, disini semual nukleus dan organel dari sel-selnya telah lenyap, dan disini terdiri dari sel-sel mati yang gepeng berisi filamen keratin lunak.

Didalam dermis, terdapat glandula sudorifera (kelenjar keringat), kelenjar minyak, folikel rambut, pembuluh darah dan ujung saraf. Dermis juga memiliki lapisan-lapisan. Pertama, stratum papilare yang terdapat jaringan ikat longgar tidak teratur, kapiler, dan jaringan ikat longgar lainnya. Kedua, stratum reticulare yang lebih tebal dan ditandai oleh serat jaringan ikat padat tidak teratur. 

                Kulit memiliki beberapa fungsi:

  • Sebagai alat pengeluaran berupa kelenjar keringat.
  • Sebagai alat peraba.
  • Sebagai pelindung organ dibawahnya.
  • Tempat dibuatnya Vit D dengan bantuan sinar matahari.
  • Pengatur suhu tubuh.
  • Tempat menimbun lemak.








Referensi
·         L,mescher. 2014. Histologi dasar junquera edisi 12. Jakarta: EGC
·         Eroschenko,victor.2014. Atlas histologi difiore edisi 11. Jakarta: EGC